Saturday, December 13, 2008

TUNAS YANG TUMBUH


TUNAS YANG TUMBUH

Aku gadis yang baru beranjak membuka mata pada kehidupan, dimana dunia mimpi nampak begitu gemerlap warna-warni hampir-hampir aku silau dibuatnya. Tetapi diusiaku yang ranum ini belum genap rasanay jika tak mendekornya dengan aroma cinta. Namun, aku harus memulainya dari mana dan dengan siapa.

Pernah sih ada seseorang yang kujatuhi pilihan dan ini bakalan jadi catatan penting dalm kisah romantikaku. Ia serasa begitu memikat apalagi dengan perawaknnya yang tinggi dan paras manis membikin hati ini hamper-hampir copot. Ups ! aku terlalu berlebihan mengidamkannya.

Tetapi sayang, mimpiku kandas dan aku hanya bisa menikmatinya dari kejauhan. Ternyata aku Cuma bertepuk dengan angin. Leleki itu tak menghiraukanku. Hari-hariku tetap seperti waktu-waktu sebelumnya, sendiri dan kesepian. Mungkin suatu saat keadaan akan berbalik siapa tahu..

Siapa sangka jika disuatu siang dimusim penghujan aku tak hendak melewatkan musim rambutan sekedar melepas penatku sepulang dari kampus. Dan seperti biasanya, rumah tetangga disamping tempat tinggal ku selalu diramaikan anak-anak kos dan temen sepermainan. Apalagi pohon rambutan disamping rumah sedang berbuah. Tak bias tidak, kami akan melemparinya atau anak-anak lelaki memanjatnya dan sudah pasti kami berebut dan dengan gelak tawa.

Dibawah pohon rambutan aku berdiri mengunyah rambutan sambil sedikit heran. Sebab dibawah tempias disamping jendela yang menghadap kebun aku melihat pemandangan yang agak berbeda. Beberapa teman berkumpul disitu sambil berseloroh dengan seseorang yang belum pernah melihat sebelumya. Ia duduk menghadap bentangan kain putih dan sebatang pensil mencoret permukaanya. Ia sedang mnsket sebuah foto yanga akan dilukisnya. Aku segera menduga, ia ini berkawan dengan pemilk rumah pemilik pohon rambutan. Ini akan menjadi pengalam menarik buatku, sebab aku bisa melihat langsung orang yang berexpresi melukis dan disni sukar didapat. Aih, ia mulai mencari-cari suaraku yang lebih ramai diantara teman-teman. Tetapi aku mesti pulang dan berganti pakaian, sebentar lagi aku bakal kembali.

Aku mulai akrab dihari ketiga dan justru banyak kesamaan yang membuat aku betah duduk berlama-lama menemaninya melukis. Apalagi aku yang memang menyukai dunia seni, ini segera kembali mengingatkanku pada seorang kawan semasa SD dulu, Ia gemar sekali menggambar. Aku jadi lebih leluasa menikmatinya.

Tak tersa kedekatan kami telah berjalan hamir dua minggu dan lukisan yang dikerjakannya sudah nampak bernyawa. Musim penghujan masih selalu membawa gerimis dan ini membuat siapa saja menjadi lebih perasa. Diam-diam aku merasa ada sesuatu yang menyelinap yang membuat diri ini sedikit lain, aku belum belum bisa memberinya nama. Inikah tunas-tunas yang bakal tumbuh jadi bunga?

Ah kurasa ini hanya karena terlalu terobsesi tayangan-taynagn percintaan di televisi. Terlalu picisan, kurasa.

Gila! Ia menyebutku ’sang peri’ di puisinya yang ia tulis buatku. Aku jadi galau, galau yang menyenangkan sekaligus kegeeran juga tersanjung. Apalagi kata-katanya begitu lembut dan santun dan aku ingin membawa puisinya dalam tidur sebagai selimut yang menenengkan yang membuatku kepaynag.

Kami sering bertukar puisi dan sling memuji ini cukup ini cukup untuk menggetarkan hatinya yang mungkin bisa menaruhku dan memperlakukanku sebagai bunga. Aku mulai membuka diri untuknya dan ia amat puitis mambahasakanku sebagai dunianya.

0 comments:

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP